Follow me on Twitter RSS FEED
Tampilkan postingan dengan label Perahu Karet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perahu Karet. Tampilkan semua postingan

Lomba Arung Jeram Perahu Karet Antar Media


BOGOR - Tim Arung Jeram Radar Bogor Group menunjukkan peningkatan cukup signifikan menjelang Kejurnas Antarmedia di Sungai Citatih, Sukabumi, 30 dan 31 Oktober mendatang. Hal ini terlihat dari latihan slalom yang dilakukan di Sungai Ciliwung, kemarin. Faturahman S Kanday dan kawan-kawan mampu menaklukkan gate dengan mudah.

Manajer Tim Arung Jeram Radar Bogor Group, Andi Ahmadi mengatakan, melihat peningkatan yang sangat cepat ini, ia optimis timnya bisa menyabet gelar juara. Karena itu, ia meminta agar para atletnya bisa memanfaatkan waktu yang tersedia ini untuk memoles kemampuan.“Saya yakin bisa menang. Setidaknya masuk tiga besar. Apalagi semangat anak-anak sangat bagus. Terbukti mereka menjalankan latihan setiap hari,” kata Andi di sela-sela latihan, kemarin.

Ia mengatakan, kemajuan tim juru warta itu tak lepas dari dukungan PT Boogie Advindo. Karena selama melakoni latihan, mereka mendapat pinjaman peralatan. Mulai perahu, helm, pelampung dan dayung. Bahkan, hingga menjelang pertandingan, peralatan tersebut bebas digunakan setiap saat.

“Dukungan peralatan ini sangat membantu kita. Karena sebagai tim pemula, kita perlu latihan sesering mungkin. Jika harus menyewa, maka akan sulit,” jelas General Manajer Radar Sukabumi dan Radar Depok itu.

Sebagai media lokal, tim Radar Bogor Group bertekad mengharumkan nama Bogor di kejuaraan tingkat nasional itu. Terlebih mereka mendapat dukungan dari Pemkab dan Pemkot Bogor.

Keyakinan Andi kian bulat setelah pelatih mereka, Acep Suwandi mengakui kemampuan Fatur cs. Sebagai rifter nasional, Acep melihat kemampuan anak-anak Radar Bogor sudah sangat bagus. Bahkan bisa disetarakan dengan pemain yang sudah lama latihan.

“Saya yakin pasti juara. Kemajuan mereka luar biasa. Secara teknik sudah mumpuni. Semoga saja tak ada halangan saat kejuaraan nanti,” tegas pria yang juga anggota Mahasiswa Pencinta Alam Pakuan (Wapalapa) itu. (leo)

Wapalapa Ingin Pertahankan Gelar

Posted in

Tim Arung Jeram Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Pakuan (Wapalapa) terus menjalankan latihan rutin menjelang kejurnas arung jeram, di Sungai Citarum, Saguling, Ciranjang, 29-31 Juli mendatang. Setelah menjalani latihan fisik selama dua minggu di Universitas Pakuan, program dilanjutkan di Situ Gede selama empat hari, (22-25/7). Kemudian di Cianten, Ciampea, dua hari (26-27/7).

Ditemui Radar Bogor saat latihan terakhir di Situ Gede, kemarin, Pelatih Arum Jeram Wapalapa, Acim Sunandi mengatakan, saat ini kesiapan timnya sudah cukup matang. Karena sebagian besar atlet yang akan turun di kejuaraan nanti merupakan atlet senior yang telah membela Wapalapa di kejurnas dua tahun lalu. Wapalapa bertekad mempertahankan gelar juara, karena selama dua kali berturut-turut mereka membawa pulang predikat juara umum.

“Kita ingin kembali menjadi juara,” kata Acim. Itong -sapaan akrab Acim- mengatakan, pada kejuaraan nanti Wapalapa akan menurunkan dua tim yang akan bertanding di kelas mahasiswa. Tim pertama merupakan para atlet senior, sedangkan satu tim lagi adalah junior.

Tim senior ditargetkan menjadi juara, sedangkan para junior hanya ditargetkan masuk lima besar.
“Kita perlu melakukan pembibitan, karena yang senior sebentar lagi akan lulus,” jelasnya.

Selama menjalankan latihan di Situ Gede, para atlet dituntut fokus menjalani latihan teknik dayung dan power. Karena itu, mereka terus dipaksa berlatih di atas perahu selama mungkin.

Usai menyelesaikan latihan power kemarin, hari ini seluruh tim diberangkatkan ke Sungai Cianten. Rencananya, mereka menjalankan latihan selama dua hari. “Selama di sungai, kita akan mempertajam teknik membaca arus sekaligus melakukan orientasi jalur. Saya pikir dua hari di sungai sudah cukup, kerena mereka sudah biasa menjalaninya,” ujar Itong yang juga masih akan turun memperkuat tim senior. Sesuai rencana, anak-anak Wapalapa ini berangkat ke tempat pertandingan pada Rabu (28/7). (leo)

Arung Jeram di Tangan Hendi Rohendi

Posted in
Oleh NELI TRIANA dan J WASKITA UTAMA

Sambil duduk di perahu karet, Hendi Rohendi dengan mimik serius memandang satu per satu anggota Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009. Setelah terdiam sejenak, ia lalu berkata pelan dan tegas, ”Saya perlu mengatakan bahwa yang paling berbahaya dan harus diwaspadai dalam berarung jeram adalah risiko ketagihan.”

Tanpa diduga, lelaki yang akrab dipanggil Abo ini tertawa berderai. ”Sudah- sudah, tak perlu tegang. Asalkan tidak mengabaikan peraturan yang berlaku dan tahu batas kemampuan kita, arung jeram akan menjadi kegiatan yang menyenangkan,” katanya, Minggu (18/1) di Batu Layang, Puncak, Bogor, Jawa Barat.Minggu pagi itu adalah hari pertama tim ekspedisi turun menyusuri Sungai Ciliwung dari hulu hingga hilir. Pada bagian hulu, Ciliwung dipenuhi jeram di level cukup tinggi, 2 sampai 4. Anggota tim ekspedisi yang nyaris tidak memiliki pengalaman berarung jeram sempat tegang dan takut. Namun, dengan gurauan akrab dan menenangkan dari Abo, semangat pun terpompa.

Rasa aman tim pengarung sungai makin tebal setelah tahu Abo ternyata satu-satunya orang Indonesia yang saat ini menjadi instruktur arung jeram bersertifikat Federasi Arung Jeram Internasional (IRF).

Sebagai instruktur bersertifikat, Abo menguasai keahlian mengendalikan perahu, membawa penumpang, hingga analisis jeram dan tingkat bahayanya, serta menguasai teknik penyelamatan saat terjadi kecelakaan. Sebagai instruktur bersertifikat, ia diakui secara internasional untuk mendidik orang menjadi pemandu (guide) atau pemimpin perjalanan (trip leader).

”Kalau dikatakan bersertifikat, mungkin belum 100 persen benar karena sertifikatnya belum sampai ke rumah saya di Cimandiri, dekat Citarik, Sukabumi. Mungkin karena tempat saya terpencil sehingga kirimannya susah sampai,” kata Abo sambil memasang senyum lebar.

Atas dasar cinta

Bagi Abo, ada atau tidak ada sertifikat memang tidak menjadi soal. Berarung jeram sudah dilakoninya sejak 15 tahun lalu. Menurut dia, wajar saja ia memiliki berbagai kemampuan karena selama belasan tahun itu ia setiap hari mendalami bermacam teknik dan pengetahuan baru yang terkait dengan arung jeram. Orang lain pun akan bisa mencapainya jika berada dalam kondisi sama dengannya.

Abo mengatakan, keberhasilannya saat ini hanyalah buah dari kecintaan terhadap arung jeram. Sejak masa remaja, ia kerap melihat arung jeram di Sungai Cimandiri, yang dipelopori salah satunya oleh Lody Korua dari Arus Liar.

Layaknya remaja lain di desanya, awalnya ia tertarik melihat perahu karet yang ditunggangi Lody. Dari sekadar meraba-raba perahu karet dengan rasa kagum, ia mulai tertarik memerhatikan bagaimana orang mengendalikan perahu untuk mengarungi sungai.

”Selepas SMA saya sempat ikut kakak bekerja di konstruksi bangunan. Ternyata pekerjaannya berat. Saya juga agak takut ketinggian, jadi akhirnya balik ke kampung. Menganggurlah saya sampai Lody menawari untuk menjadi pemandu perahu membawa wisatawan di Citarik. Saya termasuk angkatan pertama perekrutan pemandu di Citarik,” kata Abo, pria lulusan SMA ini.

Ia langsung meraih kesempatan itu. Bersama tujuh calon pemandu lain yang juga berasal dari desa-desa sekitar, ia berangkat ke Bali untuk menjalani pelatihan pemandu di Sungai Ayung, tahun 1994. Pada saat itu, ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik.

Tubuhnya yang menjulang, lebih dari 170 sentimeter, dianggap sebagai berkah. Untuk mengendalikan perahu dari belakang (buritan perahu) guna melewati jeram, ternyata lebih mudah bagi orang bertubuh tinggi. Abo semakin bersemangat dan percaya diri untuk tetap mendalami arung jeram, sebagai hobi maupun profesi. Sejumlah kursus lain dilahapnya demi memperdalam kemampuan, antara lain kursus pemandu internasional di Bali tahun 2001 dan 2002.

Tak berhenti sebatas menjadi pemandu, atas ajakan Lody, ia merambah profesi baru sebagai atlet arung jeram. Ia membela Indonesia pada Kejuaraan Dunia Arung Jeram 2007 di Korea Selatan. Kala itu, bersama tim, ia mampu mendudukkan Indonesia di peringkat 12 dari 20-an peserta dari seluruh dunia.

Penjelajahannya di sungai-sungai berjeram juga tak hanya terhenti di Citarik, tetapi pada lebih dari 20 sungai di Indonesia, termasuk sungai-sungai di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kecintaannya pada arung jeram juga diwarnai pengalaman buruk. Saat survei sungai di Way Semangka, Lampung, pada 1997, ia sempat terjatuh dari perahu dan nyaris mati karena terseret arus sepanjang hampir satu kilometer.

Tularkan ilmu

Ia masih menjalani pekerjaan sebagai pemandu bersama sekitar 35 orang lain di Citarik di bawah bendera Arus Liar. Satu kesamaan di antara para pemandu itu, semuanya adalah penduduk setempat. Bedanya, Abo juga menjabat sebagai Manajer Pendidikan dan Pengembangan, serta Manajer Adventure Product Arus Liar.

Diakui Abo, sebagai instruktur ataupun manajer bukanlah karier tertinggi yang ditawarkan dalam profesinya. Lody Korua menambahkan, dalam karier seorang pengarung jeram profesional, ada beberapa jenjang yang harus dilalui. Pertama adalah guide atau pemandu yang bertanggung jawab dalam satu perahu, trip leader atau penanggung jawab satu rangkaian perjalanan (bisa terdiri lebih dari lima perahu), instruktur atau orang yang mengarahkan dan mendidik guide dan trip leader, serta yang tertinggi adalah asesor, orang yang bisa mendidik dan menganggap layak seseorang menjadi instruktur.

Namun, Abo merasa ia justru ingin menggapai mimpi yang lain daripada mengejar karier. Mimpinya adalah mendirikan sekolah khusus pemandu. Berdasar pengalaman di Arus Liar, mendidik pemandu membutuhkan waktu 2,5 bulan. Bahkan bisa sampai enam bulan untuk menjadi pemandu lebih berkualitas.

Dengan adanya sekolah pendidikan pemandu, ia berharap bisa memunculkan lebih banyak pemandu arung jeram dari penduduk setempat. Alasannya, penduduk lokal di sekitar Citarik masih banyak yang menganggur maupun merantau ke kota sekadar menjadi buruh.

”Saya bisa seperti ini karena jasa Lody Korua. Ia tidak hanya mendidik saya, tetapi juga sebagai ayah yang membesarkan saya. Saya tidak pernah berpikir pindah ke operator lain meski banyak sekali tawaran. Saya hanya berharap bisa menggapai cita-cita mendirikan sekolah pemandu, karena itu juga bentuk penghargaan kepada Lody,” kata Abo.(MULYAWAN KARIM)

Agung Laksono Naik Perahu Karet Menyusuri Ciliwung

Posted in

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono bersama Menteri Sosial Salim Segaf Al'Jufrie dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menaiki perahu karet berwarna merah menyusuri Kali Ciliwung dari Jembatan Kampung Melayu menuju Pintu Air Manggarai, Sabtu (5 Desember 2009).Agung Laksono, Fauzi Bowo, dan Salim Segaf Al'Jufrie berada dalam satu perahu karet merah dan mengenakan pelampung. Terlihat mereka sempat melambaikan tangan kepada warga yang menonton dari atas Jembatan Kampung Melayu.

Sekitar pukul delapan pagi, perahu karet Menteri beserta iring-iringannya berangkat menuju Pintu Air Manggarai. Terlihat 11 perahu karet merah bertuliskan Departemen Sosial dan Pemadam Kebakaran mengiringi perahu karet Menteri.

Penyusuran Kali Ciliwung oleh Menko Kesra ini merupakan rangkaian program kunjungan kerja Menko Kesra ke kawasan perumahan dan permukiman di bantaran Kali Ciliwung.

Naik Perahu Karet, Foke Susuri Ciliwung

Posted in

'Stop Nyampah di Kali'
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo beserta istri dan jajaran Pemprov DKI menyusuri aliran Sungai Ciliwung dari Menteng Tenggulun hingga Halimun, Jakarta, dalam rangka kampanye Kali Bersih III bertema "Stop Nyampah di Kali" menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-483 DKI Jakarta, Minggu (20/6/2010).Gubernur bersama jajaran Pemprov DKI yang tiba sekitar pukul 10.00 kemudian menaiki perahu karet berwarna oranye untuk memantau kondisi sampah di sepanjang aliran sungai tersebut. Sebelumnya, Gubernur beserta jajarannya meninjau permukiman penduduk di Menteng Tenggulun.

"Saya mulai dari Menteng Tenggulun. Saya lihat banyak warga yang membersihkan saluran di depan rumahnya. Cuma, dibuang ke mana sampahnya? Kebiasaan buruk membuang sampah di sungai itu masih ada," ujar Fauzi Bowo.

Acara peninjauan Gubernur beserta jajarannya dalam kampanye Kali Bersih III tersebut bertajuk "Kado untuk Jakarta". Dalam tinjauannya, Gubernur menyerahkan bantuan kepada warga bantaran Kali Ciliwung berupa tong sampah, truk sampah, tempat pembuatan kompos, dan pohon.

Peninjauan akan dilaksanakan di Sungai Ciliwung mulai dari Jembatan Kelapa Dua Depok, Serengseng Sawah, hingga Muara Teluk Jakarta, Jakarta Utara, guna mengejar target pelaksanaan program Ciliwung Bersih Tanpa Sampah pada 2012.

Produksi Perahu Karet Boogie

Posted in

Suasana pembuatan perahu karet di bengkel kerja PT Boogie Advindo, Kedung Halang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/2/2010). Memasuki musim penghujan, PT Boogie Advindo mampu memproduksi perahu karet sekitar 70 buah per bulan. KONTAN/BAIHAKI SPECIAL INSTRUCTIONS
RESTRICTED TO EDITORIAL USE
Format : JPEG (Join Photographic Experts Group)
Width : 3878 px
Height : 2592 px
Size : 1.0 MB
License type : Editorial Used
Release information : N/A

10 February 2010

Bisnis Sukses, Hobby Jalan Terus

Posted in
Bisnis Sukses, Hobi Jalan Terus
Banyak kisah sukses mereka yang mengawinkan hobi dan bisnis. Salah satunya, Anas Ridwan. Ia sukses di bisnis dan tetap melanjutkan kegemarannya bertualang di alam bebas. Lihat saja gaya anak gunungnya berikut Land Rover tahun 1960-an yang menjadi tongkrongan resminya. Padahal, lelaki berusia 34 tahun ini pemilik perusahaan PT Boogie Advindo (BA), produsen perlengkapan outdoor merek Boogie -- merek yang tak asing di telinga pehobi kegiatan outdoor.
Kelengkapan dan kualitas Boogie tidak kalah dari produk impor. Harap maklum, sebagian besar bahan baku produk ini memang masih impor. Boogie Advindo memproduksi sandal, tas dan ransel, aksesori, celana dan kemeja lapangan, perahu karet, pelampung, drybag, sepatu dan kantong tidur. Semuanya untuk kegiatan penjelajahan alam. Hasil riset menunjukkan, Boogie menempati urutan ketiga untuk produk kegiatan outdoor di pasar setelah merek Eiger dan The North Face.
Usaha Anas berawal dari hobinya berkelana di alam bebas. Usianya masih 13 tahun ketika ia jatuh cinta pada alam bebas. Selanjutnya, ia bergabung dengan Wanadri, kelompok pencinta lingkungan termasyhur di Bandung. Saat diwawancara SWA, Anas mengaku baru saja pulang dari Bandung mengikuti pelantikan anggota baru Wanadri.
Bagi Anas, bisnis dan hobi bisa saling mengisi. Melalui hobi, ia bisa bekerja dan bahkan memperoleh keuntungan. Sebaliknya, ketika merasa jenuh dan capek, ia dapat mengisi waktu dengan bertualang. "Bagi saya, bisnis ini lebih pada sisi nilai tambah suatu produk, bukan semata-mata uang," ujarnya. Ia menyadari betul, dirinya tidak punya bakat dagang. "Motivasi saya sebenarnya adalah punya aktivitas yang menghasilkan. Juga, ingin membuktikan anak gunung pun bisa berhasil," tegasnya.
Pikiran untuk berbisnis mulai muncul ketika berlangsung kompetisi terjun Boogie (terjun payung) di Pantai Kuta, Bali, pada 1990. Di ajang kelas dunia ini, Anas melihat para penerjun payung dunia memakai sandal sport merek Teva. Desainnya yang menarik menggugah keinginannya membuat sandal serupa. Maka, bermodalkan uang saku Rp 100 ribu, ia meminta seorang tukang sol keliling membuatkannya sandal serupa Teva. "Pokoknya, berapapun biayanya," jawab Anas ketika si tukang sol mengemukakan biaya pembuatannya. Padahal, uang di kantongnya hanya Rp 100 ribu.
Sejak itu, Anas mempekerjakan seorang tukang sol keliling untuk memproduksi tiga pasang sandal gunung setiap hari. Sandal ini kemudian dijajakan di kalangan terbatas seharga Rp 17.500-22.500/pasang. Tidak sulit baginya menjual produknya sebab modelnya memang bagus. Namanya juga jiplakan. Alhasil, melalui distribusi teman-teman sesama pecinta alam, sandal kreasi Anas selalu laku terjual. Empat bulan kemudian, ia mencoba meningkatkan kapasitas produksi dengan mempekerjakan lima tukang sol. Produksinya pun meningkat menjadi sekitar 15 pasang/hari. Begitu seterusnya, selama dua tahun Anas memfokuskan produksinya pada sandal gunung -- demikian kalangan pencinta lingkungan menyebut produk Anas -- hingga tukang solnya mencapai 15 orang dengan produksi 50 pasang/bulan pada tahun kedua. Harga pun semakin meningkat hingga Rp 45.000/pasang. Dari harga, Anas mengambil keuntungan 20% per pasang.
Di tahun ke-10 usahanya, total produksi sandal Boogie mencapai 5 ribu pasang/bulan. Tentu saja, tak semua pekerjaan dikerjakan sendiri tetapi juga lewat kemitraan dengan beberapa perajin sandal yang mengerjakan sekitar 60% dari total produksi. Mitra yang dimaksud adalah 7 perajin -- satu perajin terdiri atas dua pekerja.
Lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan, 1992 ini mengaku sering menghadapi kendala dalam menjalankan usaha. Terutama, dalam hal pembiayaan. Pasalnya, kalangan perbankan di Tanah Air masih berorientasi komersial, seperti harus ada jaminan sertifikat dan sejenisnya dan bukan pada prospek usaha. Anas mengaku perusahaannya sering diabaikan oleh pihak bank. Selain itu, kebijakan Pemerintah dalam pembinaan industri kecil dinilai Anas hanya berada pada tataran permukaan. "Sering kali tidak nyambung. Mereka tak menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Jadi, asal jalan saja," ujarnya mengeluh.
Dikecewakan bank, Anas tidak putus asa. Pada tahun ketiga usia perusahaannya, ia mengembangkan produknya dengan memproduksi tas ransel, drybag, dompet, sepatu tracking, pelampung, tenda dan berbagai aksesori kegiatan pecinta alam. Tahun 1996, ia berani memproduksi perahu karet. Padahal, jarang ada perusahaan yang mampu memproduksi perahu karet seperti itu. Bahkan, saking langkanya, ketersediaan perahu karet pada olahraga arung jeram sangat terbatas. Untuk memproduksi perahu karet, lelaki kelahiran Bogor ini rela terbang ke Taiwan untuk menimba ilmu. Namun, tak ada kesempatan mengembangkannya, sehingga ia melirik perusahaan sepatu yang membuat perahu penyelamat dan arung jeram, PT Heejo Indo. Anas kemudian menjadi penyalur perahu arung jeram perusahaan itu.
Impian membuat perahu karet akhirnya kesampaian atas bantuan seorang karyawan Heejo Indo dan modal Rp 5 juta. Namun, lagi-lagi cobaan datang sebab teman-temannya ragu menggunakan perahu buatannya. Sebaliknya, seorang warga negara Australia, James Casey -- karyawan perusahaan pertambangan Scorpion di Kalimantan -- membeli tiga perahu karet buatannya berikut perlengkapannya.
Hampir bersamaan, Heejo Indo bangkrut. Seluruh peralatan perusahaan ini dibeli Anas dan beberapa karyawannya direkrut ke Boogie Advindo. Untuk produksi, Anas mengeluarkan dana Rp 25 juta buat membangun ruang oven yang mutlak diperlukan dalam membuat perahu karet. Hanya dalam tiga tahun, Boogie Advindo berhasil memproduksi 90 perahu karet, dan terjual 20-30 unit/tahun seharga US$ 1.000/unit untuk jenis Rahong dan US$ 1.100 untuk Maskot. Keuntungan besar mulai tampak di depan mata. Pesanan dari Jawa, Bali, Aceh, Toraja bahkan Malaysia mulai berdatangan. Hebatnya, ia mampu menyelesaikan order-order ini hanya dalam lima hari meskipun harus menjahitnya sendiri.
Namun, kontributor terbesar pendapatan Boogie Advindo tetap berasal dari sandal gunung (40%), diikuti tas (40%), dan 20% dari jenis produk lain seperti aksesori, tenda, pelampung dan perahu karet. Untuk tas, prestasi Boogie terbilang bagus dengan menguasai 20% pangsa pasar kategori perlengkapan outdoor. Sementara itu, 60% dari total produksinya terjual ke wilayah Jawa dan sisanya dipasarkan di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Untuk ekspor, meskipun bersifat insidental, pasar terbesar Boogie adalah Malaysia, Singapura, Jepang dan Australia.
Kini, Anas berencana membuka gerai di beberapa daerah lainnya selain gerai yang telah ada di beberapa kota besar di Indonesia. Di dalam negeri, Boogie Advindo menggunakan sistem rekanan dalam membuka gerainya. Pasar ekspor ternyata menjadi perhatian khusus Anas. Targetnya, beberapa gerai akan dibuka di negara-negara ASEAN paling lambat tahun 2003. Untuk merealisasi rencana itu, beberapa langkah telah dilakukan. Misalnya, meningkatkan kualitas SDM dengan mengirim beberapa karyawan mengikuti kursus manajemen di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen, Menteng, Jakarta. Untuk ini, manajemen Boogie Advindo mengeluarkan dana sebesar Rp 20 juta/tahun.
Boogie Advindo juga telah membuat situs web www.boogieadvindo.com agar produk Boogie lebih dikenal luas hingga ke luar negeri. Gayung bersambut, sebab banyak permintaan datang dari Jepang dan Australia setelah membaca situs ini. Untuk meraih pasar baru, perusahaan ini menawarkan keanggotaan klub Boogie Advindo kepada kalangan pecinta alam. Dengan menjadi anggota, yang bersangkutan akan mendapat diskon harga khusus untuk produk-produk Boogie.
Menurut Anas, hal pertama yang dilakukannya adalah meningkatkan kualitas produk. "Boogie is quality," tegasnya. Kedua, menjual langsung melalui mobil Land Rover Merah (tahun 1970-an) yang bertuliskan "Cepat & Andal Melayani Pelanggan Camp", baik di Senayan maupun pada acara-acara yang berhubungan dengan kegiatan pecinta alam. Kemudian, meningkatkan frekuensi keikutsertaan mereka sebagai sponsor dalam berbagai kegiatan. Terakhir, membantu konsultasi, pelatihan dan informasi seputar kegiatan pecinta alam, khususnya arung jeram.
Satu hal yang sangat diyakini awak Boogie Advindo adalah produk-produk mereka bukanlah produk trendi, penekanannya lebih pada fungsi dan kualitas. Buktinya, walaupun krisis melanda Tanah Air pertengahan 1997, bisnis Boogie tidak terpengaruh sama sekali. Sebaliknya malah meraih untung. "Bagi kami, untung besar nomor sekian. Yang penting, kesinambungan usaha," jelas Anas. Sikapnya yang cenderung hati-hati dan sederhana, ditularkan kepada sekitar 70 karyawannya. Tanpa gembar-gembor, kini ia tengah menawarkan program pembangunan perumahan karyawan, yang berlokasi di dekat kantor Boogie Advindo di Jalan Talang Raya, Bogor.
Anas mengakui, pertumbuhan perusahaannya yang demikian cepat juga akibat konflik yang terjadi di tubuh Alpina, produsen produk serupa. Redupnya sinar Alpina membuka kesempatan bagi pemain lain, termasuk Boogie, untuk masuk pasar. Tak heran jika kemudian banyak pemain baru yang muncul memperebutkan pasar yang ditinggalkan Alpina. Maklumlah, Alpina pernah merajai pasar nasional untuk produk sejenis.
Guna menerobos pasar yang lebih besar, manajemen Boogie Advindo mengupayakan berbagai strategi, termasuk melakukan kegiatan below the line seperti mensponsori kegiatan pecinta alam. Salah satunya, menjadi sponsor atlet International Kayak Festival di Asahan, 2002. Boogie Advindo kini juga sedang membina tiga atlet pencinta alam terbaik nasional. Pertengahan tahun ini, Boogie Advindo mengembangkan usaha dengan membuka BoomAdventure di daerah aliran sungai Palayangan-Pangalengan, Jawa Barat, meliputi arung jeram, kayaking, paralayang, sepeda gunung, tracking, canyoning, bananboat dan war games. Tujuannya tentu saja untuk lebih memasyarakatkan produk Boogie.
Segmen pasar Boogie selama ini adalah pelajar/mahasiswa, penggemar ekstrakurikuler kegiatan alam dan perusahaan outbound atau arung jeram. Strategi lain yang ditempuh Boogie Advindo, menerapkan sistem waralaba, yang dimulai di Lampung dan Cianjur, menyusul kemudian di Bekasi.
Alamat : Jl. Talang Raya No. 28, Bogor, Jawa Barat. Telepon (0251) 8371443, 8337403. Faksimil : (0251) 8377560. E-mail : boogie@wasantara.net.id. Website : www.Boogieadvindo.com dan www.boogie.co.id.

Anas Ridwan (Boogie)

Posted in
Ada berbagai macam cara yang ditempuh oleh para pengusaha dalam memulai bisnisnya. Ada yang mulai karena terdesak kebutuhan, tidak puas dengan statusnya sebagai karyawan, namun ada juga yang memulainya dari hobi kemudian dibisniskan. Anas Ridwan, pemilik PT. Boogie Advindo (BA) perusahaan yang memproduksi berbagai macam perlengkapan untuk berkelana di alam bebas (dari mulai sandal hingga perahu arung jeram) adalah salah satu pengusaha yang memulai bisnis dari kegemarannya. Hal ini bermula dari kesukaannya berpetualang di alam bebas.
Kemudian ia bergabung dalam Wanadri, kelompok pecinta alam di Bandung. Awalnya, tidak terpikirkan olehnya hobi tersebut akan mendatangkan uang. Bisnis dari hobi tersebut mulai terlintas di benaknya ketika berlangsung kompetisi terjun payung di Pantai Kuta, Bali, tahun 1990. Saat itu yang menarik perhatian Anas adalah desain sandal yang dipakai oleh para penerjun. Ia mulai berpikir untuk memproduksi sandal serupa.

Modalnya waktu itu hanya semangat dan sedikit uang, Rp 100 ribu. Ia mulai dari memproduksi sandal. Untuk memproduksi Anas mengajak tukang sol sepatu keliling untuk bekerjasama. Mulanya hanya satu orang tukang sol yang ia pekerjakan, lama kelamaan meningkat menjadi 15 orang. Begitu juga dengan produksi sandalnya, dari mulai 3 pasang setiap harinya, kemudian meningkat hingga 15 pasang. Distribusi pun ia rancang sedemikian rupa, ia salurkan melalui teman-teman sesama pecinta alam. Hal ini berlangsung satu tahun.

Ketika pesanan bertambah banyak, ia kemudian menjalin kerjasama dengan pada perajin. Tidak puas bermain di sandal, Anas mencoba mengembangkan produksi usahanya. Di tahun ketiga ia merambah tas ransel, sepatu gunung, dry bag, dompet, pelampung, tenda dan pernak-pernik petualang lainnya. Karena sikap optimisnya, Anas terus mengembangkan usaha, sehingga pada tahun 1996 ia pun melirik produksi perahu karet. Padahal, waktu itu masih sangat jarang perusahaan yang memproduksi perahu karet. Kebanyakan pengguna perahu karet mengimpornya dari luar negeri. Namun impian tersebut tidak langsung terwujud . Ia pun mengisinya dengan menjadi penyalur perusahaan yang memproduksi perahu penyelamat dan arung jeram, PT. Heejo Indo.

Ketika Heejo Indo bangkrut, Anas membeli seluruh peralatan perusahaan tersebut dan merekrut beberapa karyawannya. Akhirnya, hingga saat ini Boogie menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi perahu karet di Indonesia. Walaupun pada awalnya banyak yang meragukan perahu karet buatan bapak satu anak ini, namun lama kelamaan, berkat keoptimisan dan kerja kerasnya, akhirnya usaha ini pun berkembang. Harga perahu yang dijualnya berkisar 15 hingga 24 juta.

Saat ini Anas memberikan perhatian khusus untuk perahu karetnya. Akhir tahun 2003 ia membangun lagi sebuah pabrik berlantai dua khusus untuk pembuat perahu karet. Ada yang unik di pabrik perahu karetnya, karena seluruh karyawan yang berjumlah sepuluh orang adalah perempuan. Ada alasan khusus?

“Sewaktu saya ke Vietnam, Korea, saya melihat seluruh karyawan di pabriknya adalah perempuan,” jelasnya. “Untuk penjualan perahu, Anas menetapkan beberapa pelayanan khusus, diantaranya reparasi khusus untuk perahu karet produksi Boogie. Anas juga memberikan potongan harga kepada mahasiswa untuk reparasi ini, 1/3 dari harga beli. Pelayanan perbaikan ini merupakan kelebihan dari Boogie. Kalau kita beli dari luar reparasinya sulit dan biayanya pasti mahal ,” terangnya. Bagi orang-orang yang tidak mampu membeli cash namun ia mengetahui kredibilitas orang tersebut, ia bisa saja memberikan kredit’. “Namun ini bukan bagian dari program, hanya di saat-saat tertentu saja,” tegasnya.

Hingga kini penjualan Boogie telah merambah ke seluruh Indonesia. Untuk distribusi Boogie memakai sistem rekanan dalam membuka gerainya. Bahkan kerjasama dengan Daarut Tauhid, Bandung, juga dilakukan. Salah satunya terwujud melalui pembuatan kartu diskon bersama, yaitu MQ Cards. Setiap orang yang memakai kartu tersebut mendapat diskon 10% untuk pembelian produk Boogie, kecuali untuk perahu, di gerai dan saung Boogie yang ditunjuk, dan 10% hingga 35% untuk pembelian di merchant yang memasang logo MQ Cards.

Membentuk sebuah komunitas juga dilakukan oleh Boogie dengan mendirikan sebuah klub yang diberi nama KlubBoogie, yaitu sebuah kelompok kegiatan alam bebas dan kelestarian lingkungan hidup. Klub yang mempunyai motto ”sehat di alam bebas” ini terbuka untuk siapa saja, yang menyukai petualangan di alam bebas. Mensponsori berbagai kegiatan pencinta alam juga dilakukan oleh Boogie hingga saat ini. Selain itu Boogie juga sudah menetapkan sistem waralaba untuk pembukaan beberapa cabangnya.

Perusahaan yang mempunyai segmen remaja ini selalu mementingkan fungsi dan kualitas di atas segalanya. Karena itulah meskipun di saat krisis melanda bisnis Boogie tidak terpengaruh sama sekali. Padahal semua hanya bermula dari sebuah hobi. Jadi siapa yang berani meremehkan arti hobi?

sumber : http://pojokniaga.wordpress.com